Saturday, June 4, 2016

Felis

Felis adalah genus kucing dalam famili Felidae,termasuk kucing domestik dan kucing liar. Spesies liar tersebar secara luas di seluruh Eropa, Asia Selatan dan Tengah, juga Afrika; kucing domestik telah diperkenalkan di seluruh dunia.
Anggota genus Felis semuanya kucing kecil, dengan kemiripan yang banyak atau kurang dengan kucing domestik. Spesies terkecil adalah kucing pasir, yang panjangnya mungkin kurang dari 40 cm, sedangkan yang terbesar adalah kucing hutan, yang dapat mencapai 94 cm. Mereka mendiami berbagai habitat yang berbeda, dari rawa sampai gurun, dan umumnya memakan tikus kecil, mereka juga memakan burung dan dan hewan kecil lainnya, tergantung pada lingkungan lokal mereka.
Penelitian genetik menunjukkan bahwa genus Felis pertama kali berevolusi sekitar delapan sampai sepuluh juta tahun lalu, mungkin di wilayah Mediterania

Spesies
Genus Felis saat ini dianggap terdiri dari enam spesies hidup, meskipun kucing domestik dan kucing gunung Cina kadang-kadang dianggap subspesies F. silvestris.
      Felis chaus (Schreber, 1777) – Kucing Hutan

    
         Felis margarita (Loche, 1858) – Kucing Pasir


         Felis nigripes (Burchell, 1824) – Kucing Berkaki Hitam


         Felis silvestris (Schreber, 1775) – Kucing Liar


         Felis catus (Linnaeus, 1758) – Kucing Domestic


         Felis bieti (Milne-Edwards, 1892) – Kucing Gunung Cina


         Felis attica (Wagner, 1857) – (punah)


         Felis lunensis (Martelli, 1906) – Kucing Martelli (punah)



Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Felis

Monday, April 18, 2016

Magnetic Levitation Train ( Maglev Train)

Magnetic leviatation merupakan sebuah  metode yang digunakan untuk membuat sebuah objek melayang di udara menggunakan medan magnet. Medan magnet ini digunakan untuk menolak atau meniadakan gaya tarik gravitasi. Magnetic levitation train atau yang sering disebut dengan Maglev train adalah kereta api super cepat tanpa roda yang memanfaatkan gaya magnet untuk melayang, menggerakkannya dan mengontrol jalannya kereta. 

Kereta maglev ini melayang sekitar 10 mm di atas relnya. Hal ini menyebabkan tidak adanya gaya gesek antara rel dengan kereta yang dapat menghambat pergerakan kereta sehingga kereta dapat melaju dengan cepat mencapai 500 km/jam (310 mph). Magnetic Levitation berkaitan erat dengan efek meissner, Efek meissner yang ditemukan pada tahun 1933 oleh Meissner merupakan efek yang terjadi dalam superkonduktor yakni material yang memiliki resistansi nol pada suhu di bawah suhu kritisnya. 

Efek Meissner ini sangat kuat sehingga magnet dapat melayang karena ditolak oleh superkonduktor. Medan magnet ini tidak boleh terlalu besar, jika medan magnetnya terlalu besar maka efek meissner ini akan hilang dan material akan hilang sifat superkonduktifitasnya.

Cara Kerja Maglev

Ada dua buah cara kerja dari maglev train ini sehingga ia dapat mengambang atau melayang di atas rel nya yaitu: Electromagnetic Suspension (EMS) yang dikembangkan di Negara Jerman dan Electrodinamic Suspension (EDS) yang dikembangkankan di Negara Jepang.

1. Electromagnetic Suspension (EMS) 

Sistem kerja dari Electromagnetic Suspension (EMS) memanfaatkan gaya tarik magnet. Dimana bagian-bagian pada  rel kereta yaitu beam (balok rel) dan levitations rails yang merupakan bagian rel penuntun. Bagian-bagian pada gerbong kereta yaitu support magnet (magnet pendukung), guidance magnets (magnet penuntun),dan vehicle ( gerbong kereta). 

Pada Electromagnetic suspension (EMS) magnet berada pada badan kereta. Electromagnet pada badan kereta berintekasi dan menarik levitation rails pada guideway (jalur pemandu), hal ini mempertahankan posisi kereta secara horizontal. Electromagnet pada bagian bawah kereta dipasang mengarah langsung ke jalur pemandu, yang mengambangkan kereta sekitar 10 mm di atas jalur pemandu dan menjaga kereta agar tetap mengambang bahkan di saat kereta tidak bergerak. 

Saat bergerak dorongan kedepan didapatkan melalui interaksi antara rel magnetic dengan mesin induksi. Namun cara ini kurang stabil sehingga jarak antara rel dengan gerbong harus selalu di control kerena ketika daya magnet berkurang gerbong dapat turun dan menabrak rel.



2. Electrodinamic Suspension (EDS)

EDS (electrodinamik suspension) memanfaatkan gaya tolak magnet. System ini menggunakan magnet superkonduktor. Pada bagian rel kereta terdapat beam sebagai dinding pemandu, levitation and guidance coil (kumparan penuntun kereta), propulsion coil (kumparan penggerak kereta) dan wheel support path (bagian rel pendukung). 

Pada saat diam kereta magnet ini tidak melayang di atas rel melainkan diam berdiri di atas rel nya. Saat akan bergerak magnet superkonduktor dinyalakan, kemudian kereta mulai mengambang sekitar 100 mm di atas rel. Magnet superkonduktor mengatur posisi kereta agar tepat berada di tengah jalur guideaway-nya kemudian computer pada sistem control mengunci posisi kereta dan menstabilkan magnet superkonduktor agar posisi kereta tidak berubah. 

Kemudian daya listrik diberikan ke kumparan dalam dinding-dinding jalur pemandu yang menciptakan medan magnet yang dapat menarik dan mendorong kereta sepanjang jalur pemandu. Arus listrik yang diberikan ke kumparan pada dinding jalur pemandu secara berganti-ganti mengubah polaritas kumparan magnet. 

Perubahan polaritas ini menyebabkan medan magnetik di depan kereta menarik kereta ke depan, sementara medan magnet di belakang kereta menambahkan gaya dorong ke depan. Kecepatan kereta Maglev ini dari awal bergerak hingga akhir memiliki kecepatan yang bervariasi. Variasi kecepatan ini diatur dengan mengatur frekuensi dari arus bolak-balik yang melalui kumparan.



Kelebihan dan Kekurangan Maglev Train

Kelebihan dari Maglev Train :
a. Mampu melayang di atas rel
b. Kecepatannya yang sangat tinggi mencapai 500 km/jam (310mph)
c. Penghematan biaya perawatan karena tidak akan ada pergantian rel 
d. Tidak adanya gaya resistansi akibat gesekan
e. Tidak membutuhkan bahan bakar fosil

Kekurangan dari Maglev Train :
a. Kebisingan yang ditimbulkan saat bergerak hampir sama dengan sebuah jet (lebih                   bising sekitar 5 dB dari kereta konvensional biasa)
b. Mahalnya investasi terutama pada pengadaan rel


Sumber : 
https://www.academia.edu/7483203/MAGNETIC_LEVITATION_TRAIN

Wednesday, April 13, 2016

Aurora

        Aurora adalah fenomena alam yang menyerupai pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari.

        Di bumi, aurora terjadi pada daerah di sekitar kutub Utara dan kutub Selatan. Aurora yang terjadi di daerah bagian Utara dikenal dengan nama Aurora Borealis, yang berasal dari nama Dewi Fajar Romawi, Aurora, dan Aurora yang terjadi di daerah bagian selatan berasal dari  nama Yunani untuk angin utara, Boreas.
 
        Di Eropa, aurora sering terlihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah Matahari akan terbit dari arah tersebut. Aurora borealis selalu terjadi di antara September dan Oktober dan Maret dan April. Fenomena aurora di sebelah Selatan yang dikenal dengan Aurora Australis mempunyai sifat-sifat yang serupa.Tapi kadang-kadang aurora muncul di puncak gunung pada  iklim tropis.

Proses Terjadinya Aurora

        Aurora tercipta karena  adanya miliaran partikel energi yang terdiri dari proton dan elektron dilontarkan matahari dengan kecepatan tinggi hingga 500 mil per detik dalam sebuah pancaran cahaya matahari. Pancaran ini biasa disebut dengan angin matahari atau solar wind yang terbentuk karena adanya ledakan besar dipermukaan matahari (Coronal Mass Ejection ).

        Setelah melalui perjalanan ke bumi yang bisa bertahan hingga dua sampai tiga hari, partikel matahari dan medan magnet bumi yang saling bertumbukan menyebabkan pelepasan partikel yang sudah terjebak didekat bumi. kemudian, partikel yang terjebak tersebut memicu reaksi dibagian atas atmosfer (ionosfer) dimana molekul oksigen dan nitrogen beraksi dan melepaskan foton cahaya. Foton cahaya inilah yang kita lihat sebagai cahaya terang yang menari-nari diatas langit yang disebut aurora.

        NASA sendiri sebagai organisasi terdepan yang melakukan penelitian tentang luar angkasa dan bumi masih melakukan berbagai penelitian tentang aurora ini. Diantaranya ialah melalui peluncuran rocket yang merupakan bagian dari misi Ground-to-Rocket Electrodynamics–Electron Correlative Experiment (GREECE) pada Maret tahun ini. Misi tersebut bertujuan untuk lebih memahami bagaimana aurora terbentuk.

Macam-Macam Aurora

        Aurora sendiri hanya terdiri dari dua macam, yaitu aurora yang terjadi dikutub utara dan aurora yang terjadi di kutub selatan :

1. Aurora Borealis

        Aurora Borealis adalah aurora yang terjadi di kutub utara. Borealis sendiri merupakan bahasa yunani dari angin utara. Aurora borealis dapat dilihat didaerah arktik dimana meliputi negara Utara Kanada, Alaska, Rusia, dan Skandinavia.

 



2. Aurora Australis

     Seperti namanya, aurora ini sering terjadi di belahan bumi selatan. Maka tak heran namanya seperti negara didekat kutub selatan yaitu Australia. Selain itu, aurora jenis ini juga pernah terjadi digunung tertinggi di Indonesia. 


 



Sumber :
http://sainsforhuman.blogspot.co.id/2014/05/penjelasan-lengkap-aurora-dan-Tempat-Menikmatinya.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Aurora

Tuesday, March 15, 2016

Kenaikan Iuran BPJS



BPJS, mungkin nama ini sudah tidak asing lagi di telinga kita semua, seperti yang kita ketahui BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita juga tahu bahwa untuk seluruh rakyat Indonesia membayar iuran BPJS yang telah ditetapkan pemerintah untuk menjamin kesehatan masyarakat, bagi para karyawan dari suatu perusahaan wajib mengikuti program BPJS ini. Berdasarkan Perpres Nomor 19 Tahun 2016, pemerintah menetapkan kenaikan iuran BPJS, yang akan diberlakukan per 1 April 2016. Besaran iuran kelas I yang semula Rp 59.500 menjadi Rp 80 ribu. Iuran kelas II yang semula Rp 42.500 naik menjadi Rp 51 ribu. Sedangkan iuran kelas III yang semula Rp 25.500 menjadi Rp 30 ribu.

Kebijakan pemerintah yang menaikkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) harus dibarengi dengan peningkatan pelayanan kesehatan di masyarakat. Sebab pengguna BPJS seringkali mengeluhkan buruknya fasilitas, infrastruktur dan pelayanan fasilitas kesehatan (faskes) yang ada.  hampir semua yang dikeluhkan peserta BPJS Kesehatan adalah pelayanan dan fasilitas di faskes mulai dari puskesmas hingga rumah sakit yang belum prima.

Adanya aturan yang mengharuskan paserta BPJS Kesehatan harus membawa rujukan dari puskesmas jika ingin ke rumah sakit juga menjadi persoalan di lapangan. Temuan di lapangan, banyak peserta BPJS Kesehatan yang mengeluh sakit terpaksa langsung ke rumah sakit pada malam hari karena puskesmas yang jadi rujukannya tidak beroperasi 24 jam. 

Semoga dengan adanya kenaikan iuran BPJS, pemerintah akan lebih serius dalam meningkatkan pelayanan yang ada dan membenahi kekurangan yang ada pada program BPJS ini.
  

Referensi :

Nama : Febrian Ramadhan
Kelas : 2IC08
NPM : 24414113
Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan
Tema : Negara dan Warga Negara
Sub Tema : Peraturan Negara

Wednesday, November 18, 2015

Tugas Teknik Lingkungan dan AMDAL : Dampak kabut asap terhadap kehidupan manusia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

            Memasuki musim kemarau, Indonesia sering mengalami kekeringan hingga terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi di daerah sumatera dan Kalimantan. Daerah-daerah ini memang memiliki areal hutan yang luas ditambah lagi dengan lahan gambut yang luas sehingga menjadi pemicu terjadinya kebakaran pada musim kemarau. Hasil dari kebakaran hutan yang tampak jelas sekarang ini adalah kabut asap, yang sangat mengganggu dan membahayakan manusia yang ada disekitarnya.
            Asap yang dihasilkan membahayakan kesehatan warga yang ada disekitarnya dan menyebabkan gangguan pernafasan. Infeksi saluran pernafasan bagian atas atau yang lebih dikenal dengan ISPA bisa menyerang masyarakat yang terus menghirup asap dari kebakaran hutan. Apalagi dihirup dengan anak-anak dan lansia yang mempunyai daya tahan tubuh yang masih lemah.

  1.2    Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari kabut asap?
2.      Bagaimana standar udara dari pemerintah?
3.      Apakah dampak dari kabut asap tersebut?
4.      Bagaimana realita yang terjadi di lapangan?

1.3   Tujuan
1. menjelaskan definisi dari kabut asap
2. menjelaskan tentang standar yang telah ditentukan oleh pemerintah
3. menyebutkan dampak yang ditimbulkan dari kabut asap
4. menunjukan contoh realita yang terjadi


BAB II
PEMBAHASAN
  

   2.1    Pengertian Kabut Asap

Kabut asap adalah kumpulan asap dan kabut yang bercampur menjadi satu kesatuan. Yang memiliki nilai kandungan halimun airnya lebih besar dari 0,1 Milimeter. Kabut bisa terbentuk ketika kelembaban relatif udara sudah mencapai 100%.
Namun proses pembentukannya tergantung pada cukup tidaknya inti kondensasi yang tersedia. Kabut asap juga dapat disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan karena campur tangan manusia di dalamnya.digunakan adalah asam cuka (CH3COOH), batu tahu (CaSO4nH 2O) dan larutan bibit tahu (larutan perasan tahu yang telah diendapkan satu malam).

2.2    Indeks Standar Pencemar Udara

         Indek standar pencemar udara atau yang lebih di kenal dengan ISPU. Sebagaimana disebutkan didalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 45 Tahun 1997 Tentang : Indeks Standar Pencemar Udara. ISPU adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya. Atau secara singkat ISPU dapat dipahami sebagai skala yang digunakan untuk menggambarkan kondisi tingkat polusi udara sehingga dapat mudah dipahami oleh masyarakat.
Harus diakui jika data kualitas udara hanya disajikan dalam bentuk konsentrasi pencemar akan sulit dipahami oleh masyarakat umum. Misalkan terdapat kandungan gas Karbon Monooksida (CO) didalam udara ambien sebesar 30 mg/m3 atau 24,3 ppm, apa artinya?. Tentu lebih mudah jika konsentrasi pencemar tersebut digambarkan kedalam rentang tertentu, misalnya “24 ppm = Sehat”. Data yang ditampilkan dalam bentuk ISPU selain menjadi lebih sederhana, nilai tunggal dan universal pada ISPU juga dapat mempermudah proses penilaian misalnya untuk membandingkan kualitas udara pada suatu daerah dengan daerah lainnya.
Adapun nilai ISPU yang dimaksud merupakan nilai dengan rentang tingkat polusi udara yang digambarkan sebagaimana terlihat pada tabel berikut:


ISPU
Pencemaran Udara
Level
Dampak kesehatan
0 - 50
Baik
tidak memberikan dampak bagi kesehatan manusia atau hewan.
51 - 100
Sedang
tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang peka.
101 - 199
Tidak Sehat
bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang peka atau dapat menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.
200 - 299
Sangat Tidak Sehat
kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.
300 - 500
Berbahaya
kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi (misalnya iritasi mata, batuk, dahak dan sakit tenggorokan).


2.3       Dampak dari Kabut Asap

Berikut ini beberapa dampak negatif dan bahaya kabut asap bagi kesehatan diantaranya :
1. Kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi.
2. Kabut asap dapat memperburuk penyakit asma dan penyakit paru kronis lain, seperti bronkitis kronik, PPOK dan sebagainya.
3. Kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan seseorang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.
4. Bagi mereka yang berusia lanjut (lansia) dan anak-anak maupun yang mempunyai penyakit kronik, dengan kondisi daya tahan tubuh yang rendah akan lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan.
5. Kemampuan dalam mengatasi infkesi paru dan saluran pernapasan menjadi berkurang, sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.
6. Berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk.
7. Bahan polutan pada asap kebakaran hutan dapat menjadi sumber polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.

8. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi lebih mudah terjadi, terutama karena ketidak seimbangan daya tahan tubuh (host), pola bakteri/virus penyebab penyakit (agent) serta buruknya lingkungan (environment).
    
                                                                                                         

2.4       Realita di lapangan

PALEMBANG - Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan mulai membaik, meskipun masih berada pada level sedang hingga tidak sehat, yakni berada pada angka berkisar 156-301 mikrogram/m3.
"Kualitas udara di ibu kota Provinsi Sumsel ini mulai membaik setelah sebelumnya pada 19 Oktober berada di atas ambang normal, menyentuh level berbahaya tertinggi 1.180 mikrogram/m3 pada kondisi bencana kabut asap yang melanda daerah ini sejak 25 Agustus 2015 lalu," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel, Indra Purnama, di Palembang, Kamis (29/10/2015).
Dia menjelaskan, Indeks Standard Pencemar Udara (ISPU) angkanya bergerak turun seiring ditingkatkan kegiatan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan melalui darat, dan udara dan berkurang jumlah titik panas (hotspot).
Menurutnya, dengan melihat perkembangan data tingkat pencemaran udara di daerah ini dalam beberapa hari terakhir yang mengalami penurunan drastis, diprediksi kualitas udara di Kota Palembang dan beberapa daerah Sumsel lainnya terus membaik dan menyentuh level baik.
Ia menyampaikan, berdasarkan rekaman alat pemantau partikular meter PM 10, kualitas udara di Kota Palembang pada Kamis ini, sekitar pukul 02.00 WIB berada pada level sedang 149 m3, kemudian setiap jam meningkat, dan terakhir pada pukul 07.00 WIB berada pada level 301 m3.
Sesuai kategori Indeks Standard Pencemar Udara (ISPU), lanjut Indra, jika kualitas udara berapa pada level 0-50 mikrogram/m3 dalam kondisi baik, sedangkan pada level 50-150 sedang, 150-250 tidak sehat, 250-350 sangat tidak sehat, dan pada level lebih dari 350 mikrogram/m3 berbahaya.
"Kondisi data kualitas udara di wilayah Kota Palembang berada pada level sedang hingga tidak sehat, membuat masyarakat di Bumi Srwijaya itu diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau ruangan dan menggunakan masker, agar tidak terhirup udara kotor yang berasap dan terdapat abu sisa kebakaran hutan dan lahan secara langsung," terangnya.
Sebelumnya, Kepala Puskesmas Merdeka Palembang, dr Desty Alsen mengatakan, dalam beberapa bulan ini terdapat ribuan warga kota ini mulai terserang penyakit infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA karena tidak kuat menghirup udara yang tercemar polusi asap dari kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau ini.
Dalam dua bulan terakhir, pihaknya telah melayani lebih dari 1.000 masyarakat yang mengeluhkan mengalami gangguan penyakit ISPA dan batuk akibat alergi asap.
"Sebagai langkah pencegahan terserang penyakit ISPA serta penyakit lainnya yang disebabkan oleh asap dan abu sisa pembakaran hutan/lahan, diimbau kepada masyarakat agar menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, dan meningkatkan kesehatan dengan menambah asupan vitamin serta banyak minum air putih," sebut Desty.

BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan

            Kabut asap yang terjadi sudah dikategorikan dalam kategori berbahaya karena sudah melebihi indeks pencemaran udara dan berada di angka >300. Walaupun begitu, tetapi keadaan kabut sudah mulai berkurang dan udara mulai membaik. Walaupun sudah mulai membaik, tetapi masyarakat masih harus berhati-hati agar tidak terkena penyakit ISPA dan penyakit lainnya yang diakibatkan kabut asap tersebut.dan kepada pemerintah agar segera membantu memadamkan asap kabut yang terjadi, serta menangkap orang-orang yang sengaja membakar lahan untuk kepentingan pribadi.karena masalah yang terjadi bukan hanya merugikan dalam negeri namun diluar negeri pun ikut terkena imbasnya.


Sumber :







Saturday, October 10, 2015

Tugas I Teknik Lingkungan dan AMDAL Observasi Industri Tahu Skala Rumah Tangga


      A.    PENDAHULUAN

Tahu merupakan salah satu makanan yang digemari oleh masyarakat, baik kalangan atas maupun bawah menyukai makanan yang satu ini. Keberadaanya sudah lama di akui sebagai makan yang sehat, bergizi dan harganya yang murah. Bahan baku utama yang digunakan untuk membuat tahu adalah kedelai (Glycine spp). 

Air banyak digunakan sebagai bahan pencuci dan merebus kedelai untuk proses produksinya. Akibat dari besarnya pemakaian air pada proses pembuatan tahu, limbah yang dihasilkan juga cukup besar. Pada saat ini sebagian besar industri tahu masih merupakan industri kecil skala rumah tangga yang tidak dilengkapi dengan unit pengolah air limbah, sehingga limbah yang belum diolah tersebut langsung dibuang ke sungai tanpa mempedulikan dampaknya terhadap lingkungan.

Untuk memenuhi tugas AMDAL yang diberikan, maka kami mengunjungi Industri tahu dan tempe yang berada di pondok benda jatiasih, Bekasi. Kami mengamati proses pembuatan tahu dan proses pembuangan limbahnya. Kegiatan observasi dilakukan pada hari rabu 7 Oktober 2015.

     1.     SEGI LIMBAH

Limbah ialah sesuatu bahan yang sebagian orang mengartikan limbah bahan atau adonan yang tidak lagi berguna dan menjorokan. Pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta menggangu lingkungan hidup . Tetapi sebagian orang mengartikan limbah sebagai bahan atau adonan yang sangat berguna. Contoh limbah yang dapat kita olah yaitu limbah tahu.

Pada dasarnya, limbah tahu dapat diklasifikasikan dalam 2 bentuk limbah, yaitu :

 A.      Limbah tahu cair
 B.      Limbah tahu padat


     A.      LIMBAH TAHU CAIR

Limbah tahu cair adalah sisa pembuangan dari hasil tahu yang berwujud cair yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan atau merusak ekosistem air. Dari penelitian kami dapat dilihat bahwa hasil limbah  cair ini langsung dibuang ke sungai tanpa diproses terlebih dahulu, padahal limbah tahu ini mangandung Senyawa-senyawa organik yang mengandung protein, karbohidrat, lemak dan minyak.

Di antara senyawa-senyawa tersebut, protein dan lemaklah yang jumlahnya paling besar (Nurhasan dan Pramudyanto, 1987), yang mencapai 40% - 60% protein, 25 - 50% karbohidrat, dan 10% lemak (Sugiharto, 1987). Semakin lama jumlah dan jenis bahan organik ini semakin banyak, dalam hal ini akan menyulitkan pengelolaan limbah, karena beberapa zat sulit diuraikan oleh mikroorganisme di dalam air limbah tahu tersebut. Untuk menentukan besarnya kandungan bahan organik digunakan beberapa teknik pengujian seperti BOD, COD dan TOM. Uji BOD merupakan parameter yang sering digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran bahan organik, baik dari industri ataupun dari rumah tangga (Greyson, 1990; Welch, 1992).



Gambar 1 : Keadaan sungai dan limbah cair.
               
1. Pengolahan Limbah Secara Fisika

Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.

      2. Pengolahan Limbah Secara Kimia

Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.

3. Pengolahan Limbah Secara Biologi

Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara nbiologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.

    B.      LIMBAH TAHU PADAT

Limbah tahu padat adalah hasil pembuangan tahu yang berwujud padat. Limbah padat tahu mengandung protein yang tinggi sehingga istimewa dijadikan tepung maupun kerupuk. Sementara itu, untuk pakan ternak, ampas tahu bisa memenuhi kebutuhan protein pakan sehingga kualitas ternak menjadi lebih baik. Ampas tahu ini memiliki harga yang eknomis jika dibandingkan dengan pakan konsentrat. Beberapa peternak menyatakan bahwa dengan memberi pakan berupa ampas tahu atau limbah tahu padat, penambahan berat badan ternak seperti sapi, kelinci, babi dan juga kambing akan lebih cepat.

KESIMPULAN
     dari 2 hal diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembuangan limbah harus diimbangi dengan pengetahuan AMDAL sehingga kita tidak asal membuang limbah tanpa tahu bahwa akan mencemari lingkungan sekitar. Dari industri rumahan yang kami teliti dapat diketahui bahwa masih belum terciptanya pemahaman pengusaha akan pentingnya mengolah limbah agar tidak mencemari lingkungan dan dampak negative yang dihasilkan limbah tersebut.

2.      SEGI EKONOMI

Dalam segi ekonomi, industri rumahan ini telah membantu mengurangi pengangguran yang ada di Indonesia walau hanya sebagian kecil, tapi ini cukup membantu warga-warga sekitar yang tidak memiliki pekerjaan. Kegiatan ini juga dapat menunjang pertumbuhan ekonomi yang ada di wilayah disekitar dan dapat menginspirasi wiraswasta lainnya untuk membuka industry-industri rumahan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA